Muhammad Faiz Rantisi
Mahasiswa Institut Agama Islam SEBI
Tak ada gema tawa yang berlarian di lorong-lorong rumah. Tak ada aroma kue yang memenuhi udara pagi. Yang ada hanyalah debu, puing-puing, dan langit yang masih menyimpan jejak luka. Namun di tengah semua itu, takbir tetap berkumandang lirih, tapi tegar.
Warga Gaza merayakan Idul Fitri di antara reruntuhan gedung yang tak lagi bernama rumah. Sebagian dari mereka menyambut hari kemenangan di tenda-tenda darurat, beralas tanah, beratap kain seadanya. Tak ada pakaian baru yang dibanggakan, tak ada hidangan istimewa yang dihidangkan. Yang tersisa hanyalah kekuatan untuk tetap berdiri dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Duka nestapa seolah tak berujung menimpa warga Gaza. Kehilangan orang-orang tercinta bukan lagi cerita yang jarang terdengar, melainkan bagian dari keseharian. Anak-anak tumbuh lebih cepat dari usianya, belajar memahami kehilangan sebelum sempat merasakan utuhnya kebahagiaan. Para orang tua memeluk anak-anak mereka lebih erat, seakan ingin menggantikan rasa aman yang telah direnggut keadaan.
Namun, di balik luka yang menganga, ada keteguhan yang tak mudah dipatahkan. Di tengah keterbatasan, mereka tetap menunaikan salat Id, tetap bertakbir, tetap saling menguatkan. Seolah ingin berkata kepada dunia: bahwa iman tidak bisa dihancurkan oleh reruntuhan, dan harapan tidak bisa dipadamkan oleh penderitaan.
Derita Gaza dan Sikap Dunia Islam
Derita warga Gaza kian tenggelam di tengah riuhnya konflik global yang bergeser arah. Ketika perhatian dunia tersedot pada ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel yang kini fokus menghadapi Iran, luka Gaza perlahan tersisih dari panggung utama. Media internasional, yang sebelumnya menyorot kehancuran dan tragedi kemanusiaan di Gaza, mulai mengalihkan sorotan. Akibatnya, penderitaan warga Gaza seolah menjadi “normal baru” yang tak lagi dianggap mendesak.
Lebih ironis lagi, sikap negara-negara di kawasan justru memperparah keadaan.
Sejumlah negara Arab Teluk tampak lebih sibuk merapatkan barisan dengan kekuatan global, bahkan bersekutu dengan pihak yang selama ini menjadi bagian dari sumber konflik. Alih-alih menjadi pelindung bagi rakyat Palestina, mereka justru terjebak dalam pusaran kepentingan geopolitik. Gaza pun kembali menjadi korban dari kepentingan yang lebih besar, ditinggalkan oleh mereka yang seharusnya paling dekat secara akidah dan rasa.
Dalam kondisi seperti ini, Idul Fitri seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai perayaan individual atau keluarga semata. Apa yang dirasakan warga Gaza sejatinya adalah luka kolektif seluruh kaum muslimin. Rasulullah ﷺ telah menggambarkan umat ini seperti satu tubuh; ketika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan. Namun realitas hari ini menunjukkan sebaliknya, seakan ada jarak emosional yang memisahkan penderitaan Gaza dari kesadaran umat secara luas.
Di sisi lain, fakta bahwa Amerika Serikat dan Israel tidak menjadikan perdamaian dan kemerdekaan Palestina sebagai prioritas semakin memperjelas arah kebijakan mereka. Bagi keduanya, isu Palestina bukanlah persoalan kemanusiaan yang harus segera dituntaskan, melainkan bagian dari peta besar hegemoni kekuasaan global. Stabilitas kawasan, pengaruh politik, dan dominasi strategis jauh lebih diutamakan dibandingkan nasib jutaan manusia yang hidup dalam penjajahan dan ketidakpastian
Bagaimana Seharusnya Kaum Muslimin Bersikap?
Di tengah derita yang tak kunjung usai, Islam sejatinya telah memberikan panduan yang jelas bagi kaum muslimin bersikap dalam hal ini. Bukan sekadar empati, tetapi aksi yang berlandaskan iman dan syariat.
Di dalam alqur’an Allah telah menegaskan karakter kaum muslimin. Mereka berkasih sayang dan lemah lembut terhadap sesama mukmin, serta tegas terhadap pihak yang memusuhi Islam. Dalam Surah Al-Fath ayat 29, Allah menggambarkan bagaimana seharusnya hubungan itu terjalin. Ini bukan hanya ajaran moral, tetapi prinsip politik dan sosial yang seharusnya membentuk sikap umat. Ketika warga Gaza terluka, seharusnya dunia Islam merasakan luka yang sama, bukan justru bersikap dingin atau bahkan berseberangan.
Kami umat Islam mempunyai ukhuwah islamiyah bukan hanya sekadar slogan, melainkan ikatan akidah yang melampaui batas negara, ras, dan kepentingan. Ikatan ini menuntut adanya tanggung jawab kolektif untuk membebaskan saudara seiman dari penderitaan. Gaza tidak boleh dipandang sebagai persoalan lokal, melainkan amanah umat yang harus diperjuangkan bersama. Ketika ukhuwah ini benar-benar hidup, maka tidak akan ada ruang bagi pengkhianatan, apalagi bersekutu dengan pihak yang menindas kaum muslimin.
Allah pun memerintahkan kaum mukmin untuk berjihad membela sesama muslim, sebagaimana dalam Surah At-Taubah ayat 123. Untuk Gaza, tidak cukup hanya dengan doa dan simpati, tetapi harus ada kesungguhan nyata, baik dalam bentuk dukungan politik, pemikiran, maupun kekuatan yang mampu menghentikan penjajahan.
Seluruh upaya tersebut tidak akan mencapai hasil yang sempurna tanpa adanya persatuan kaum muslimin dalam satu kepemimpinan yang menerapkan Islam secara menyeluruh. Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan umat terletak pada kesatuannya. Di bawah kepemimpinan yang berlandaskan manhaj kenabian, potensi besar umat Islam dapat diarahkan untuk melindungi, membela, dan membebaskan negeri-negeri yang tertindas, termasuk Palestina. Tanpa persatuan ini, umat akan terus tercerai-berai dan mudah dipermainkan oleh kepentingan global.
Dengan demikian, Idul Fitri tidak hanya menjadi momentum kembali kepada fitrah secara individu, tetapi juga momentum untuk mengembalikan kesadaran kolektif umat: bahwa penderitaan Gaza adalah panggilan iman, dan pembebasannya adalah tanggung jawab bersama.
