Depok|delidaily.net – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan LPPM Institut SEBI dan KSEI IsEF SEBI menggelar Seminar Publikasi Ilmiah di Jurnal Internasional pada Rabu (29/04/2026). Bertempat di SEBI Hall, kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat budaya riset sekaligus meningkatkan literasi akademik di kalangan dosen dan mahasiswa.
Acara ini menghadirkan dua pakar riset sebagai narasumber utama, yakni Assoc. Prof. Efri Syamsul Bahri dan Prof. Dr. R. Haryo Bimo Setiarto, guna membedah strategi praktis dalam menembus jurnal internasional bereputasi.
Substansi dan Konsistensi Sebagai Kunci
Assoc. Prof. Efri Syamsul Bahri menekankan bahwa publikasi seharusnya tidak dipandang sebagai beban administratif, melainkan bentuk pertanggungjawaban gagasan ilmiah. Menurutnya, ide penelitian bisa digali dari fenomena sosial yang ada di sekitar maupun melalui kajian literatur yang mendalam.
“Substansi dan gagasan ilmiah harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar mengejar publikasi. Mulailah secara sistematis dengan menyusun judul yang kuat, abstrak yang jelas, dan bangun kebiasaan menulis secara konsisten,” ujar Efri. Ia juga mendorong akademisi untuk aktif menjalin kolaborasi internasional guna meningkatkan jangkauan dan kualitas riset.
Validitas Data dan Manfaat Bagi Peradaban
Senada dengan hal tersebut, Prof. Dr. R. Haryo Bimo Setiarto menyoroti pentingnya validitas data primer dan kebaruan (novelty) dalam setiap karya ilmiah. Di era pendidikan tinggi saat ini, publikasi bukan hanya syarat kelulusan pascasarjana, tetapi juga tolok ukur kontribusi akademisi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
“Karya ilmiah harus memiliki kontribusi nyata dan mampu menjawab permasalahan. Kebermanfaatan karya tercermin dari seberapa banyak karya tersebut disitasi oleh peneliti lain,” jelas Prof. Haryo.
Ia juga mengingatkan peserta agar tidak berkecil hati saat menghadapi penolakan dari jurnal. “Penolakan adalah bagian dari proses. Masukan dari reviewer justru merupakan bahan perbaikan yang berharga untuk menyempurnakan kualitas tulisan kita,” tambahnya.
Etika dan Teknologi di Dunia Akademik
Di penghujung seminar, kedua pemateri menegaskan bahwa integritas tetap menjadi fondasi utama. Meski teknologi seperti Kecerdasan Buatan (AI) kini semakin marak digunakan, para akademisi diwajibkan menjunjung tinggi etika penulisan dan menghindari praktik plagiarisme.
Melalui seminar ini, Institut SEBI berharap para peserta, terutama mahasiswa, semakin termotivasi untuk menghasilkan riset yang berkualitas. Kolaborasi lintas institusi dan negara diharapkan menjadi kunci produktivitas riset yang tidak hanya berdampak di tingkat nasional, tetapi juga di kancah internasional.
Kontributor : Rijal Yahya
