delidaily
Oleh: Muhammad Fadhil Basayef
Mahasiswa Institut Agama Islam SEBI
Pendahuluan
Dalam perjalanan dakwah di Indonesia, ada tokoh-tokoh yang mungkin tidak selalu berada di tengah sorotan publik, tetapi jejak pengabdiannya dirasakan oleh banyak orang. Salah satunya adalah KH. M. Nazir Hasan, seorang ulama dan aktivis dakwah yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk umat, khususnya melalui perjuangannya di Hidayatullah dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Provinsi Lampung.
Perjalanan beliau menarik karena pengabdiannya tidak hanya berlangsung dalam dunia dakwah dan pendidikan Islam, tetapi juga pernah bersentuhan langsung dengan kehidupan politik dan pemerintahan sebagai anggota DPRD Kota Bandar Lampung. Dengan demikian, sosok KH. M. Nazir Hasan memberikan gambaran bahwa aktivitas dakwah dan pengabdian kepada masyarakat dapat mengambil berbagai bentuk.
Salah Satu Perintis Hidayatullah
Nama KH. M. Nazir Hasan memiliki tempat penting dalam sejarah awal Hidayatullah. Beliau merupakan salah satu dari lima pendiri Hidayatullah bersama KH. Abdullah Said, KH. Hasan Ibrahim, KH. Muhammad Hasyim HS, dan KH. Usman Palese.
Pada 5 Februari 1973, para perintis tersebut mendirikan Pesantren Hidayatullah di Karang Bugis, Balikpapan. Dari perjalanan panjang tersebut, Hidayatullah kemudian berkembang menjadi salah satu organisasi dakwah dan pendidikan Islam yang memiliki jaringan di berbagai daerah.
Menjadi bagian dari generasi awal pendiri tentu bukan sebuah perjalanan yang sederhana. Dakwah pada masa itu dijalankan dalam kondisi yang penuh keterbatasan. Karena itu, kisah para perintis Hidayatullah memperlihatkan pentingnya keberanian memulai, kesabaran dalam menjalani proses, serta keikhlasan dalam mengabdikan diri.
Puluhan Tahun Mengabdi di Dewan Dakwah Lampung
Selain kiprahnya dalam Hidayatullah, KH. M. Nazir Hasan juga dikenal luas melalui pengabdiannya di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Provinsi Lampung.
Beliau dipercaya memimpin Dewan Dakwah Lampung selama kurang lebih 20 tahun. Dalam periode kepemimpinannya, berbagai program dakwah dikembangkan, termasuk penguatan sumber daya dai, pembinaan masyarakat, serta pengembangan jaringan dakwah di berbagai daerah Lampung.
Salah satu program yang berkembang pada masa tersebut adalah penguatan rekrutmen dan koordinasi dai. Dewan Dakwah juga mendorong para dai untuk hadir di berbagai wilayah hingga pelosok Lampung melalui kegiatan pembinaan dan dauroh dai.
Menariknya, setelah masa kepemimpinan beliau berakhir pada 2020, Dewan Dakwah Lampung memberikan penghormatan kepada KH. Nazir Hasan atas pengabdiannya selama sekitar dua dekade. Pada pelantikan pengurus periode 2020–2025, beliau mendapatkan penyematan sorban sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengabdiannya.
Berdakwah dan Mengabdi Melalui Politik
Kiprah KH. M. Nazir Hasan juga tidak berhenti di dunia dakwah. Pada tahun 2004, beliau terpilih dan dilantik sebagai anggota DPRD Kota Bandar Lampung. Catatan BPS Kota Bandar Lampung juga mencantumkan nama KH. Nazir Hasan sebagai anggota DPRD Kota Bandar Lampung.
Keterlibatan tersebut menunjukkan sisi lain dari pengabdian beliau. Politik dalam konteks ini dapat dilihat sebagai salah satu ruang untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat melalui jalur kebijakan dan pemerintahan.
Bagi seorang aktivis dakwah, keterlibatan di ruang publik tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Dunia dakwah memiliki orientasi pembinaan umat, sementara politik memiliki dinamika kepentingan dan kebijakan yang kompleks. Namun, pengalaman KH. M. Nazir Hasan memperlihatkan bahwa seorang tokoh agama dapat mengambil peran di berbagai ruang pengabdian selama tetap membawa nilai-nilai yang diyakininya.
Dakwah yang Hadir di Tengah Masyarakat
Salah satu hal yang menarik dari perjalanan KH. M. Nazir Hasan adalah cara dakwah yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian ceramah, tetapi juga pembangunan kehidupan masyarakat.
Dewan Dakwah Lampung pada masa kepemimpinan beliau menjalankan berbagai program yang berkaitan dengan pembinaan dai, pengembangan masjid, pendidikan, serta pemberdayaan masyarakat. Dalam berbagai catatan tentang perjalanan Dewan Dakwah Lampung, dakwah dipahami bukan hanya sebagai dakwah bil lisan, tetapi juga dakwah bil hal—dakwah melalui tindakan nyata dan pelayanan sosial.
Hal tersebut menjadi pelajaran penting bahwa dakwah tidak selalu harus hadir dalam bentuk mimbar. Membina masyarakat, mendidik generasi, membantu mereka yang membutuhkan, dan membangun lembaga yang bermanfaat juga merupakan bagian dari dakwah.
Pelajaran bagi Generasi Muda
Perjalanan KH. M. Nazir Hasan memberikan banyak pelajaran bagi generasi muda, khususnya mahasiswa Muslim.
- Pertama, pengabdian membutuhkan konsistensi. Memimpin sebuah lembaga dakwah selama puluhan tahun bukanlah perjalanan singkat. Dibutuhkan kesabaran dan keteguhan untuk terus menjalankan amanah.
- Kedua, ilmu harus bertemu dengan amal. Pengetahuan agama akan semakin bermakna ketika diwujudkan dalam kehidupan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
- Ketiga, dakwah membutuhkan kemampuan untuk hadir di berbagai ruang. Perjalanan beliau menunjukkan bahwa kontribusi kepada umat dapat dilakukan melalui pendidikan, organisasi, dakwah, maupun ruang pemerintahan.
- Keempat, seorang tokoh tidak hanya meninggalkan nama, tetapi juga meninggalkan generasi dan sistem yang dapat melanjutkan perjuangan.
Penutup
M. Nazir Hasan adalah salah satu sosok yang perjalanan hidupnya memperlihatkan luasnya makna pengabdian. Sebagai salah satu perintis Hidayatullah, beliau mengambil bagian dalam sejarah awal perjuangan dakwah. Di Lampung, beliau kemudian mengabdikan puluhan tahun melalui Dewan Dakwah, sekaligus pernah mengambil peran sebagai anggota DPRD Kota Bandar Lampung.
Dari perjalanan tersebut, kita dapat melihat bahwa pengabdian kepada umat tidak memiliki satu jalan saja. Ada yang berdakwah melalui pendidikan, ada yang melalui organisasi, ada yang melalui pelayanan sosial, dan ada pula yang berkontribusi melalui ruang pemerintahan.
Bagi generasi muda, khususnya mahasiswa Muslim, warisan terbesar dari seorang tokoh seperti KH. M. Nazir Hasan bukan sekadar kisah masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa ilmu seharusnya melahirkan pengabdian, dan pengabdian seharusnya memberikan manfaat bagi sebanyak mungkin manusia.
Karena pada akhirnya, kehidupan seorang manusia akan meninggalkan dua hal: apa yang pernah ia lakukan dan apa yang terus berjalan setelah ia tiada.
