delidaily.net
Oleh: Muhammad Fadhil Basayef
Mahasiswa Institut Agama Islam SEBI
Mahasiswa sering disebut sebagai generasi penerus bangsa. Namun, menjadi mahasiswa sejatinya bukan hanya tentang mengejar gelar, mendapatkan nilai yang baik, atau menyelesaikan pendidikan di bangku perkuliahan. Lebih dari itu, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk melihat persoalan yang terjadi di tengah masyarakat serta ikut memberikan kontribusi bagi bangsa.
Bagi mahasiswa Muslim, tanggung jawab tersebut memiliki dimensi yang lebih luas. Ilmu yang dipelajari tidak seharusnya berhenti di ruang kelas, tetapi harus melahirkan kepedulian, keberanian bersikap, dan kemauan untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Islam sendiri mengajarkan pentingnya ilmu yang memberikan kemaslahatan serta mendorong umatnya untuk menegakkan keadilan dan kebaikan.
Mahasiswa Muslim dan Realitas Bangsa
Indonesia merupakan negara dengan berbagai persoalan yang kompleks. Masalah ekonomi, pendidikan, kemiskinan, pengangguran, ketimpangan sosial, lingkungan, hingga persoalan politik terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Dalam kondisi seperti ini, mahasiswa tidak seharusnya hanya menjadi penonton. Mahasiswa memiliki akses terhadap ilmu pengetahuan, ruang diskusi, organisasi, dan berbagai sumber informasi yang dapat digunakan untuk memahami persoalan secara lebih mendalam.
Namun, keberanian bersuara juga harus disertai dengan pengetahuan. Kritik tanpa pemahaman dapat berubah menjadi sekadar kemarahan, sementara aktivisme tanpa arah dapat kehilangan tujuan. Karena itu, mahasiswa perlu membangun budaya membaca, berdiskusi, melakukan kajian, serta membiasakan diri melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang.
Islam sebagai Landasan Pergerakan
Menjadi mahasiswa Muslim berarti menjadikan nilai-nilai Islam sebagai bagian dari cara berpikir dan bertindak. Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kebaikan dan mencegah kemungkaran sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ali ‘Imran ayat 110 bahwa umat Islam disebut sebagai umat terbaik karena menyeru kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.
Ayat tersebut dapat menjadi refleksi bagi mahasiswa Muslim. Peran mahasiswa bukan sekadar menyampaikan kritik, tetapi juga menghadirkan solusi. Bukan hanya mengungkap kesalahan, tetapi juga berusaha memperbaiki keadaan.
Dalam kehidupan berbangsa, nilai-nilai seperti keadilan, kejujuran, amanah, kepedulian, dan keberpihakan kepada masyarakat yang lemah seharusnya menjadi bagian dari karakter mahasiswa Muslim.
Tidak Harus Menjadi Politikus untuk Berkontribusi
Kontribusi terhadap bangsa tidak selalu berarti harus masuk ke dunia politik praktis. Seorang mahasiswa dapat berkontribusi melalui bidang yang ia kuasai.
Mahasiswa ekonomi dapat membantu memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat. Mahasiswa pendidikan dapat berkontribusi dalam mencerdaskan anak-anak di daerah. Mahasiswa hukum dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap hukum. Begitu pula mahasiswa ekonomi syariah dan perbankan syariah dapat mengambil peran dalam membangun literasi ekonomi Islam dan memperkuat ekosistem keuangan syariah.
Dengan demikian, ilmu yang dimiliki setiap mahasiswa dapat menjadi jalan pengabdian.
Menjadi Generasi yang Kritis, tetapi Tetap Beradab
Salah satu tantangan mahasiswa hari ini adalah derasnya arus informasi. Media sosial membuat setiap orang dapat menyampaikan pendapat dengan mudah. Namun, kemudahan tersebut juga membawa risiko munculnya hoaks, provokasi, ujaran kebencian, dan perdebatan yang tidak produktif.
Mahasiswa Muslim harus mampu menjadi generasi yang kritis tanpa kehilangan adab. Berbeda pendapat bukan alasan untuk saling merendahkan. Mengkritik kebijakan bukan berarti membenci orang yang berbeda pandangan.
Kematangan intelektual justru terlihat ketika seseorang mampu mempertahankan prinsip tanpa kehilangan akhlak.
Dari Kampus untuk Masyarakat
Pada akhirnya, kampus bukan hanya tempat memperoleh ilmu, tetapi juga tempat mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan masyarakat. Organisasi, diskusi, penelitian, kegiatan sosial, dan berbagai aktivitas kemahasiswaan seharusnya menjadi ruang untuk melatih kepemimpinan dan kepedulian.
Mahasiswa Muslim memiliki kesempatan untuk menggabungkan ilmu, iman, dan kontribusi. Ketiganya menjadi penting agar ilmu tidak hanya membuat seseorang pintar, tetapi juga membuatnya bermanfaat.
Bangsa ini membutuhkan generasi muda yang tidak hanya mampu bertanya, “Apa yang salah dengan negeri ini?”, tetapi juga berani bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaikinya?”
Sebab, perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat dimulai dari seorang mahasiswa yang memilih untuk belajar dengan sungguh-sungguh, peduli terhadap masyarakat, berani menyuarakan kebenaran, menjaga adab dalam perbedaan, dan menggunakan ilmunya untuk memberikan manfaat.
Mahasiswa Muslim bukan sekadar generasi penerus bangsa. Ia adalah bagian dari generasi yang hari ini memiliki kesempatan untuk ikut menentukan ke mana bangsa ini akan berjalan.
