delidaily.net – Aroma manis buah anggur yang ranum menyambut setiap pengunjung di Desa Duyu, Kota Palu. Namun, di balik keindahan dan kesuburan Kebun Anggur Duyu ini, tersimpan kisah bangkit dari keterpurukan. Kawasan yang pada 2018 lalu porak-poranda akibat bencana alam, kini telah bertransformasi menjadi Kampung Reforma Agraria “Duyu Bangkit”, sebuah simbol keberhasilan penataan lahan dan pemberdayaan masyarakat.
Transformasi ini adalah buah dari kerja sistematis Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) Kota Palu, yang dikoordinasikan oleh Kementerian ATR/BPN. Program yang berjalan sejak 2021 itu fokus pada penataan aset dan perluasan akses bagi masyarakat, khususnya para penyintas bencana, melalui pendekatan terpadu.
Sutikno Teguh Asparianto, Perencana Ahli Muda Dinas Pertanian sekaligus anggota GTRA Kota Palu, menjelaskan mekanisme kolaborasi tersebut. “Sejak 2021 kami tergabung dalam Gugus Tugas Reforma Agraria Kota Palu. Pak Wali Kota sebagai ketuanya memerintahkan kami untuk mendukung program ini, dan BPN berperan sebagai koordinator. Jadi semua kegiatan dapat terkoordinasi dengan baik,” jelas Sutikno saat ditemui di lokasi, Kamis (29/1/2026).
Sinergi lintas instansi ini, menurutnya, memastikan intervensi pemerintah tepat sasaran. Hasilnya, kawasan yang semula rawan berubah menjadi zona produktif berbasis pertanian modern. “Perkembangan dari segi pendapatan teman-teman di sini menonjol. Karena dari sejarah panjangnya, mereka sebenarnya penyintas bencana,” ujar Sutikno dengan nada bangga.
Keberhasilan program tidak hanya dinikmati oleh kelompok tani inti, tetapi juga merambah ke warga sekitar. Ibrahim, salah satu warga Desa Duyu, membuktikannya. Dari inisiatif pribadi setelah belajar dari YouTube dan arahan ketua kelompok tani, ia kini menikmati hasil dari 20 pohon anggurnya.
“Kami coba-coba dulu, dan ternyata lumayan. Bibit awalnya juga dikasih oleh pak ketua,” kenang Ibrahim. Ia mengungkapkan rasa syukurnya karena budidaya anggur ini menjadi sumber penghasilan tambahan yang signifikan bagi keluarganya. “Bersyukur lah, dapat penghasilan tambahan selain dari warung. Berkat terkenal juga kampung Duyu Anggur ini.”
Dari kebunnya, Ibrahim mampu memanen hingga tiga kali setahun dengan penghasilan kotor sekitar empat juta rupiah per panen. Nilai ekonomi ini turut mengangkat nama Desa Duyu, yang kini tak hanya dikenal sebagai sentra pertanian produktif, tetapi juga sebagai destinasi agrowisata favorit warga Kota Palu.
Keberhasilan Kampung Reforma Agraria Duyu Bangkit menjadi bukti konkret bahwa penataan lahan yang terintegrasi dengan pemberdayaan masyarakat mampu membuka luka pascabencana menjadi ladang harapan. Program ini tidak sekadar memulihkan lahan, tetapi lebih penting lagi, memulihkan kehidupan ekonomi dan martabat warga, menciptakan peluang baru yang berkelanjutan di atas tanah yang telah ditata dengan lebih adil dan produktif.
