Jakarta|delidaily.net – Aroma tak sedap dari dugaan korupsi dana hibah Gerakan Pramuka Kwarcab Labuhanbatu akhirnya tercium hingga ke ibu kota. Tak tanggung-tanggung, koalisi aktivis GARANSI dan AMPPUH kini bersiap “mengepung” Kantor Kejaksaan Agung (Kejagung) RI pada 21 Mei mendatang karena merasa penanganan kasus senilai Rp1 miliar ini mulai tampak seperti drama penuh teka-teki di tingkat lokal.
Ketua Umum AMPPUH, Novrizal Taufan Nur, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (12/5), memberikan sindiran keras terhadap proses hukum yang dinilai berjalan di tempat. Ia menduga ada “permainan hukum” yang membuat penetapan tersangka dalam kasus ini terasa jauh lebih sulit daripada mendirikan tenda saat perkemahan.
Kekecewaan Novrizal bukan tanpa alasan. Lambannya Kejari Labuhanbatu dalam memberikan kepastian hukum memicu spekulasi bahwa ada kekuatan luar biasa yang sedang mengintervensi. Ia pun mendesak Jaksa Agung segera melakukan evaluasi total terhadap bawahannya di Labuhanbatu yang diduga sedang asyik “meninabobokkan” perkara ini.
“Kasus ini sudah jadi tontonan publik. Jangan sampai penanganannya justru membuat rakyat makin tidak percaya pada hukum. Kami minta Kejagung ambil alih sebelum skandal dana hibah ini benar-benar ‘berkemah’ selamanya di laci meja jaksa,” tegas Novrizal.
Bukan sekadar gertakan sambal, AMPPUH mengaku sudah merampungkan koordinasi dengan Polda Metro Jaya untuk aksi Jilid II nanti. Sambil mengumpulkan bukti-bukti tambahan, mereka berniat menyerahkan laporan resmi yang mungkin akan membuat telinga jajaran Kejari Labuhanbatu memerah.
Tampaknya, gerakan mahasiswa ini ingin membuktikan bahwa dana yang diperuntukkan bagi tunas-tunas bangsa tidak boleh dikorupsi oleh “tikus-tikus” birokrasi. Publik kini menanti, apakah teriakan di Kejagung nanti akan membuahkan status tersangka, atau justru laporan ini hanya akan menjadi koleksi baru di rak arsip Jakarta?
